[phpBB Debug] PHP Notice: in file /viewtopic.php on line 988: date() [function.date]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead
[phpBB Debug] PHP Notice: in file /viewtopic.php on line 988: getdate() [function.getdate]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead
Forum Profesional Film Indonesia • Melihat topik - Persamaan persepsi masalah profesi dan teknik

Forum Profesional Film Indonesia

Adil dan Beradab
Sekarang ini Sabtu Des 15, 2018 8:23 pm

Waktu dalam UTC + 7 jam




Postkan topik baru Balas ke topik  [ 1 post ] 
Pengarang Pesan
 Subjek post: Persamaan persepsi masalah profesi dan teknik
PostDipost: Minggu Jun 24, 2012 4:09 pm 
Offline

Bergabung: Minggu Mar 07, 2010 7:42 pm
Post: 5
Lokasi: INDONESIA
(standarisasi profesi, teknik dan sertifikasi)

Kadang kadang Negara kita membingungkan, seperti Guru-guru yang sudah lama bekerja baru di standarisasi dengan sertifikasi padahal mereka memiliki IJAZAH. Dan menurut penelitian terakhir 2,6 juta guru tidak layak mengajar ?

Jadi kalau kata Riri bilang sebelum kita menstandarkan tehnik dilapangan kita harus meluluskan mahasiswa yang standard. Lalu patokan kita apa ? yang tepat ya kesepakatan bersama para pelaku perfilman dan Televisi.

Ilustrasi bulan Desember 2005:
Saya sebagai Sinematografer yang bertanggung jawab terhadap kwalitas imaji sebuah film, di tanya Produser pada saat preview sebuah film, yang mana saya tidak dilibatkan pada saat koreksi gambar dengan alasan biaya yang dilakukan di hongkong?
Suara pun bisa berbeda antara cetakan Hongkong dan Indonesia…
Pada saat preview sendiri kita melihat dari proyektor yang bergetar… dengan lampu yang kelap kelip dan sering mati cahayanya, dan intensitas cahaya proyektor 1 dan 2 yang berbeda …. Dan petugasnya mengatakan “wah di bioskop-bioskop malah bisa beda-beda antar bioskop 1 dengan yang lainnya “ (bukannya semua bioskop 21).

Ini baru masalah tehnik saja bagaimana dengan SDM nya sudah sangat jelas dari ilustrasi di atas saja menggambarkan tidak mengertinya kebutuhan standarisasi. Bagaimana kita mengukurnya kalau tidak ada tolok ukurnya….

Ilustrasi, Desember 2005 dari salah satu pengajar FFTV-IKJ di mailing list IKJFFTV@yahoogroups.com. Tentang pernyataan dewan juri FFI 2005 ……..

Saya mencoba membahas dari hal yang nampaknya "kecil" dengan kutipan dari komentar juri tersebut:

".......Fakta di atas menunjukkan wawasan dan referensi yang dimiliki para penulis dan sutradara film-film tersebut masih dominan berasal dari luar Indonesia. Termasuk pola pengadeganan, sudut pengambilan gambar, bahkan framing-nya. Hal-hal yang mungkin diserap dari film-film asing, internet, buku-buku impor, dan lain sebaga inya. Bukannya dari berita-berita koran dan televisi, atau pergaulan dan interaksi yang intens dengan orang-orang Indonesia yang ada di dekatnya. Film-film tersebut seolah ditulis dan dibuat oleh orang-orang yang “asing”, yang tidak mengerti kehidupan dan tidak mengenal masyarakatnya sendiri....."

Betul-betul lucu sekaligus menyedihkan! Bayangkan kalau tulisan mereka itu kita kembalikan ke dalam bentuk pertanyaan dan ditujukan kepada para juri:
- "apa sih definisi pola pengadeganan yang berasal dari indonesia?"; "
- "yang mana yang disebut sudut pengambilan gambar yang asal indonesia?"
- "apa pula yang disebut framing yang berasal dari indonesia?"

Nah, kalo udah gitu kita bertanya apakah bapak ibu juri tersebut MAMPU menjawab dengan jelas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Apakah definisi yang mereka buat akan jadi sahih dihubungkan dengan pilihan film-film yg diseleksi. Saya sampai coba "mengintip" kembali ke buku James Monaco maupun Joseph M. Bogh apakah kira-kira emang ada tertulis bahwa film yang baik itu mestilah pola pengadeganannya, sudut pengambilan gambarnya bahkan framingnya berasal dari suatu negeri atau dari kebudayaan pembuatnya.

Ini semua masalah globalisasi yang sudah dirintis dari tahun 1500 dimana Negara eropa (western) expansi untuk transnational dan pasar global.
Dan seperti masalah istilah-istilah di film pun sama seperti bahasa dunia sudah menjadi penghubung antara bahasa dan batasan bentuk dari literature dan budaya scholarship, juga peradaban Eropa Modern. Modern adalah saksi transformasi dari periode globalisasi, dimana karakter dan bentuk dari bagian artikulasi dari bahasa-bahasa (English, French, german, Italian), bahasa untuk literature (Greek dan latin), dan budaya scholarship (yang utama dalam English, French dan german)

These are important countries, this is what matter, this is what we should study in order to learn how the world operate (imanuel wallerstein, “open de social sciences, ‘ item 50, no. I (1996 ):3.

Tapi jangan salah kalau mau dilihat dari jumlah pengguna bahasa dunia sekarang lebih banyak adalah bahasa mandarin.
Masalah nya adalah kita ini siapa?. Dan mau kemana? apakah anda masih ingat tanggal dicetuskannya Sumpah pemuda?
Ini permasalahanya kita sudah hidup di dunia yang saling curiga dan acuh….. atau ini pun sudah bagian dari skenario besar globalisasi ?
“Yang penting hari ini saya kenyang dan kaya” … karena kita di kondisi-kan merasa miskin …. Dan selalu lapar.

Itulah bedanya Negara maju dengan Negara berkembang …… Negara maju berpikiran maju berpikir minimal 10 tahun mendatang bahkan ratusan tahun …. Kalau Negara berkembang paling lama lima tahun, gimana caranya bisa mengeruk kekayaan dalam jangka 5 tahun…. Dan ini sudah menjadi dari bagian kita termasuk di perfilman.
Padahal sebuah karya film bisa menjadi asset seumur hidup dan universal, tapi kita melakukannya seperti buat dodol … yang penting cepat, murah dan laku. Padahal bikin dodol aja lama ngaduknya.
Dan sudah pasti dicari cara yang paling gampang ngga usah mikir …. Secara teknik tinggal pencet tombol saja asal di monitor bagus dan kelihatan gambarnya.

Inilah yang menjadi dasar pemikiran yang salah, semua serba instan lupakan proses yang bernilai kualitas.

Rumus membuat sinetron adalah cerita yang bagus, buat gambar (bukan imaji yang memiliki makna) yang jelas dan terang, pengadeganan Master shot dan cover-cover shot (MS, CU) dimana akhirnya generasi baru belajar dan mendapat pengalaman dari proses pembuatan sinetron. Kenapa ? sampai-sampai ada alumni IKJ sangat bangga bisa memproduksi drama 48 menit dalam 2 hari di banding yang lain bisa 4 hari? Sementara tetap mengeluh di bayar nya beberapa bulan setelah tayang karena stasiun TV belum membayar ke Rumah Produksi.

Selama orang Indonesia tidak menghargai pekerjaannya maka tidak akan terjadi standarisasi, kenapa PFN Bubar pada hal peralatan yang dimiliki adalah standard internasional, masalah mental yang tidak pernah dihargai oleh manusia Indonesia yang sudah korup…..

Gimana mau menghadapi pasar global, masalah tenaga asing sebenarnya tidak masalah selama kita siap mengatur diri dulu sebelum mengatur orang asing, yang selalu di hormati di banding warga Indonesia sendiri makanya banyak klien dan agency advertising lebih senang sama yang berambut blonde. Bagimana kita sendiri siap menghadapai pasar global……

Sementara itu di bentuklah perhimpunan pekerja film iklan yang sekarang malah lagi ribet dengan namanya NPWP atau perpajakan di Negara tercinta ini.

Bagaimanpun juga masalah standard ini bukan hanya peralatan nya atau teknik, tapi pengetahuan dan mental si pelakunya apakah mau maju bersama untuk bisa masuk masyarakat global .

Standarisasi adalah kesepakatan bersama untuk pencapaian tertentu, bukan sebuah aturan yang dibuat satu pihak. Sebagai acuan bisa saja kita mengikuti standard dunia (baca global seperti SMPTE, ITU, IATSE, ISO dan lain lain) selama kita sepakati bersama dan tertulis / sertifikasi.

Sehingga pengaturan tenaga kerja pun bisa lebih teratur dengan memiliki sertifikasi. Tapi jangan sampai membeli sertifikat nya, pemikiran masyarakat Negara berkembang yang sudah di kondisikan merasa miskin tapi belanja terus, sangat rentan terhadap yang namanya korupsi, tidak inovatif.

Semoga ilustrasi ini menjadi pemikiran kita untuk berpikir untuk generasi mendatang INDONESIA , local genius di kancah dunia (baca globalisasi).
Bukan kita yang berpikir, “yang penting hari ini” bisa gaya dengan handphone model terbaru setiap bulan, pakaian Versace dan merasa bagian dari standard globalisasi.

Tulisan ini sudah di presentasikan di seminar BP2N dan KFT
Jakarta , 8 Desember 2005

_________________
Agni@sinematografer.org
http://www.bawahair.org


Laporkan post
Atas
 Profil  
Balas dengan petikan  
Tampilkan post-post sebelumnya:  Urutkan sesuai  
Postkan topik baru Balas ke topik  [ 1 post ] 

Waktu dalam UTC + 7 jam


Siapa yang online

Pengguna yang berada di forum ini: Tidak ada pengguna yang terdaftar dan 1 tamu


Anda dapat membuat topik baru di forum ini
Anda dapat membalas topik di forum ini
Anda tidak dapat mengubah post anda di forum ini
Anda tidak dapat menghapus post anda di forum ini
Anda tidak dapat mempost lampiran di forum ini

Cari:
Lompat ke:  
cron
Powered by phpBB © 2000, 2002, 2005, 2007 phpBB Group